Rabu, 02 Oktober 2013

LUKA BAKAR

Patofisiologi Luka Bakar
Perubahan Lokal
·         Luka bakar menyebabkan nekrosis koagulativa epidermis dan jaringan dibawahnya kedalamannya bergantung pada suhu dan lamanya pejanan yang mengenai kulit
·         Luka bakar diklasifikasikan menjadi 5 kategori berdasarkan penyebabnya yang berbeda-beda. Penyebabnya yaitu cedera akibat api, cairan panas (mendidih), kontak dengan benda panas atau dingin, pajanan kimia dan konduksi listrik. Tiga penyebab pertama tersebut menimbulkan kerusakan sel  terutama melalui transport energy, yang menyebabkan nekrosis koagulativ. Bahab kimia dan listrik menyebabkan cedera terhadap membrane sel secara langsung selain melalui transfer panas.
·         Daerah cedera pada kulit dibagi menjadi 3 zona : zona koagulasi, zona statis dan zona hipertermia.
·         Daerah nekrotik pada luka tempat terjadinya kerusakan sel,  dinamakan zona koagulasi; jaringan ini rusak secara ireversibel pada saat luka terjadi.
·         Zona statis adalah daerah yang segera mengelilingi zona nekrotik yang mempunyai tingkat kerusakan sedang disertai penurunan perfusi jaringan dan bergantung pada lingkungan luka, dapat bertahan hidup berlanjut ke nekrosis koagulatif.
·         Daerah terakhir dinamakan zona hipertermia, yang ditandai dengan vasodilatasi akibat inflamasi yang mengeliilingi luka bakar dan mengandung jaringan yang tampak jelas sebagai tempat mulainya proses penyembuhan; umumnya tidak beresiko berkembang menjadi nekrosis .

Kedalaman Luka Bakar
1.      Luka bakar derajat Satu
·         Cedera terbatas hanya di epidermis
·         Nyeri, eritematosa, dan memucat bila disentuh sawar epidermis masih intak.
·         Tidak menimbulkan jaringan parut, dan pengobatan ditujukan untuk memberikan rasa nyaman.
2.      Luka bakar derajat dua
·         Terbagi menjadi 2 tipe, dangkal dan dalam
·         Luka bakar derajat dua-dangkalberupa eritematosa, nyeri, memucat bila di sentuh, dan sering kali melepuh.
·         Terjadi reepitalisasispontan dari struktur epidermis yang tersisa dalam lapisan Malpigi rate ridges, folikel rambut, dan kelenjar keringat dalam 7-14 hari
·         Luka bakar derajat dua-dalam yang hingga mencapai dermis lapisan retikuler, tampak lebih pucat dan berbintik-bintik, tidak memucat bila disentuh, tetapi masih terasa nyeri dengan tusukan jarum.
·         Menyembuh dalam 14-35 hari melalui re-epitalisasi folikel rambut dan keratinosit kelenjar keringat, seringkali disertai pembentukan jaringan parut akibat hilangnya dermis.

3.      Luka bakar derajat tiga
·         Full thickness epidermis dan dermis, yang ditandai dengan eskar kasar yang keras tapi tidak nyeri, dan berwarna hitam, putih, atau merah cherry.
·         Tidak tersisa bagian epidermis atau dermis; oleh karena itu, proses penyembuhan luka ini harus sembuh melalui reepitalisasi dari tepi luka.
·         Luka bakar derajat dua-dalam dan full-thickness memerlukan eksisi dengan grafting kulit agar luka dalam sembuh dengan waktu yang tidak terlalu lama.

4.      Luka bakar derajat empat
·         Mengenai organ lain di bawah kulit, seperti otot, tulang, atau otak.

Luas Luka Bakar
1.      Luas luka bakar umumnya dinilai dengan “rule of nines”
2.      Anak-anak relative memiliki permukaan tubuh yang lebih besasr pada kepala dan leher, yang dikompensasi dengan daerah permukaan yang lebih kecil pada ekstermitas bawah.



Perubahan Sistemik
·         Luka bakar yang signifikan akan menyebabkan pelepasan massif mediator-mediator inflamasi, baik pada luka maupun jaringan lain.
·         Mediator ini menimbulkan vasokontriksi dan vasodilatasi, meningkatkan permeabilitas kapiler,serta edema local dan pada organ yang jauh
·         Setelah terjadinya luka bakar yang berat, fungsi sel T helper menurun akibat polarisasi respons T helper 1 (TH1) terhadap T helper 2 (TH2).
·         Luka bakar juga mengganggu aktivitas limfosit-T sitotoksik seiring dengan besarnya luka bakar sehingga meningkatkan resiko infeksi, terutama akibat jamur dan virus.
·         Setelah terjadi luka bakar berat dan kemudian dilakukan resusitasi, terjadi hipermetabolisme, yang ditandai dengan takikardia, peningkatan curah jantung, pengeluaran energy, konsumsi oksigen, lopolisis dan proteolisis masif, serta kehilangan nitrogen yang berat.
·         Hipermetabolisme terlihat paling jelas pada pasien cedera luka bakar berat yang dapat bertahan selama berbulan-bulan, yaitu berupa kehilanhan berat badan massif dan penurunan kekuatan ( terutama saat berusaha/proses sembuh dari komplikasi yang menyertai cedara luka bakar )
·         Perubahan metabolism ini sebagian diakibatkan oleh pelepasan hormone katabolic, yaitu katekolamin, glukokortikoid, dan glucagon.
PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR
1.      Pemeriksaan Awal
·         Cedera jalan nafas harus diduga jika luka bakar mengenai wajah, bulu hidung menjadi hangus, sputum mengandung karbon dan takipnea.
·         Obstruksi jalan nafas atas dapat berkembang dengan cepat, dan status respirasi harus di monitor secara continue untuk menilai apakah pasien memerlukan control jalan nafas dan bantuan ventilasi.
·         Suara serak yang progresif merupakan tanda akan terjadi obstruksi jalan nafas, dan intubasi endotrakeal sebaiknya dilakukan di awal sebelum edema mengganggu jalan nafas bagian atas
·         Adanya pulsasi pada ektermitas distal, cukup untuk menentukan sirkulasi darah yang adekuat sampai pemantauan seperti pengukuran tekanan arteri dan keluaran urine bias dilakukan
·         Cedera traumatic lain mungkin menyertai luka bakar, dan jika mengancam jiwa, sebaiknya ditangani terlebih dahulu
·         Nyeri merupakan komponen umum pada luka bakar dan dapat diobati dengan pemberian morfin intravena dosis kecil setelah pemeriksaan awal selesai dilakukan

RESUSITASI
·         Akses vena paling baik diperoleh dengan kateter perifer pendek pada kulit yang tidak terbakar ; namun vena pada kulit yang terbakar pun dapat digunakan
·         Insisi vena safena bermanfaat jika sulit untuk menemukan akses infuse. Insisi vena ini lebih disukai dibandingkan dengan kanulasi vena sentral, karena komplikasinya lebih rendah
·         Pada anak berusia kurang dari 6 tahun, dapat digunakan akses intramedular di tibia proksimal
·         Larutan RL tanpa Dekstrosa merupakan larutan pilihan kecuali pada anak-anak kurang dari 2 tahun, yang harus diberikan RL dekstrosa 5%
·         Banyaknya cairan awal yang akan diberikan, dapat dihitung cepat dengan mengalihkan daerah permukaan tubuh total (total body surface area, TBSA) yang terbakar dengan BB pasien dalam Kg kemudian dibagi 8.
·         Jumlah cairan yang diperlukan untuk mempertahankan perfusi adekaut dapat dengan mudah dipantau dengan melihat fungsi ginjal normal, dengan cra menghitung volume keluaran urinnya.
·         Perubahan laju pemberian cairan intravena sebaiknya ditentukan perjam dengan melihat respon pasien tehadap volume cairan yang diberikan.


ESKAROTOMI
·         Pada saat lika bakar derajat dua dalam dan derajat tiga mengenai lingkar ektermitas, sirkulassi perifer ke ekstermitas dapat terganggu.
·         Timbulnya edema menyeluruh dibawah eskar dapat mngganggu outflow vena dan akhirnya mempengaruhi inflow arteri yang mendarahi daerah distal.
·         Hal ini dapat dikenali dengan rasa baal dan kesemutan pada tungkai, makin hebatnya rasa nyeri di jari-jari dan adanya melambatnya capillary refille
·         Aliran arteri dapat dinilai melaului pemeriksaan sinyal dopler
·         Ektermitas yang terganngu memerlukaan eskarotomi, yaitu melepaskan eskar luka bakar langsung ditempat tidur pasien, dengan melakukan insisi dibagian lateral dan medial ekstermitas menggunakan scalpel atau elektrokauter
·         Eskar yang mengerut harus di insisi secara longitudinal untuk memperbaiki aliran darah
·         Adanya peningkatan tekanan konpertemen otot memerlukan fasciotomi
·         Setiap penurunan ventilasi pada pasien luka bakar seharunya menimbulkan inspeksi untuk mencari kelainan yang mengganggu pergerakan dada, dengan melakukan eskarotomi trunkus dengan benar untuk menghilangkan konstriksi dan memungkinkan volume tidal yang adekuat.


Selasa, 01 Oktober 2013

Airway

KARAKTERISTIK TULANG RUSUK

            Dalam anatomi, tulang rusuk atau iga (Latin: costae adalah tulang panjang yang melengkung dan membentuk rongga rusuk.) Tulang rusuk melindungi dada (Latin: thorax), paru-paru, jantung, hati, dan organ dalam lainnya di rongga dada.
Pada mamalia, tulang rusuk terdapat hanya di bagian dada. Namun pada reptil, tulang rusuk kadang-kadang terdapat dari bagian leher hingga sacrum.
Terdapat beberapa jenis ikan yang dapat memiliki hingga 4 rusuk pada setiap tulang punggung.
Manusia (baik pria dan wanita) memiliki 24 tulang rusuk (12 pasang). Hal ini pertama kali dikemukakan oleh Vesalius pada 1543 untuk menyelesaikan kontroversi yang terjadi pada saat itu.

KARAKTERISTIK PARU-PARU
            Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) vertebrata yang bernapas dengan udara. Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut "pernapasan eksternal" atau bernapas. Paru-paru juga mempunyai fungsi nonrespirasi. Istilah kedokteran yang berhubungan dengan paru-paru sering mulai di pulmo-, dari kata Latin pulmones untuk paru-paru.

JALAN NAPAS (AIRWAY)
            Tubuh kita dapat bertahan beberapa minggu tanpa adanya makanan dan beberapa hari tanpa adanya minum. Namun, tubuh kita tidak dapat bertahan lama jika tanpa oksigen. Terdapat rumusan yang sudah diketahui internasional untuk urutan pertolongan pada korban, yaitu ABC (Airway-Breathing-Circulation). Airway ditempatkan pada urutan pertama karena masalah airway akan mematikan paling cepat. Komponen yang penting dari sistem pernapasan adalah hidung dan mulut, faring, epiglotis, trakea, laring, bronkus dan paru.
Anatomi sistem pernapasan
Hidung dan mulut
            Normalnya, manusia akan berusaha bernapas melalui hidung, dan pada keadaan tertentu akan bernapas melalui mulut. Udara yang masuk akan mengalami proses penghangatan dan pelembapan. Pada korban yang tidak sadar, lidah akan terjatuh kebelakang rongga mulut. hal ini dapat menyebabkan gangguan pada airway. Lidah pada bayi lebih besar secara relatif sehingga lebih mudah menyumbat airway.
Faring
            Kalau kita membuka mulut lebar-lebar, maka akan terlihat suatu ruangan pada dinding belakang, yang dikenal sebagai faring. Udara dari hidung dan mulut, serta makanan dari mulut harus melalui faring ini.
            Udara dari mulut masuk melalui lubang mulut ke faring yang dikenal sebagai orofaring. Udara yang masuk melalui hidung akan ke bagian faring yang dinamakan nasofaring. Pada bagian bawah, faring terbagi menjadi dua saluran. Saluran pertama disebut sebagai esofagus (kerongkongan) yang merupakan jalur masuk makanan ke lambung. Saluran kedua disebut sebagai laring (tenggorokan), yang merupakan jalur pernapasan dan akan bersambungan dengan paru.
Epiglotis
            Trakea dilindungi oleh sebuah flap berbentuk daun yang berukuran kecil yang dinamakan epiglotis. Normalnya, epiglotis menutup laring pada saat makanan atau minuman masuk melalui mulut, sehingga akan diteruskan ke esofagus. Tetapi, pada keadaan tertentu seperti trauma atau penyakit, refleks ini tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, sehingga dapat terjadi masuknya benda padat atau cair ke laring yang dapat mengakibatkan tersedak.
Laring dan trakea
            Laring adalah bagian paling pertama dari saluran pernapasan. Pada bagian ini terletak pita suara. Setelah melalui laring, udara kana melalui trakea. Pada bayi, trakea berukuran lebih kecil, sehingga tindakan mendongakan kepala secara berlebihan (hiperekstensi) akan menyebabkan sumbatan pada airway.
Bronkus dan paru
            Ujung bawah trakea akan bercabang menjadi dua, yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Setiap bronkus akan terbagi-bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil yang disebut bronkiolus. Dapat dibayangkan seperti ranting-ranting dan cabang-cabangnya pada sebuah pohon. Pada ujung terakhir, ada yang disebut alveolus. Pada alveolus akan terjadi pertukaran oksigen dengan karbondioksida.
Penilaian jalan napas pada korban
Membuka jalan napas
            Lidah merupakan penyebab utama tertutupnya jalan napas pada korban tidak sadar. Pada korban yang tidak sadar, lidah akan kehilangan kekuatan ototnya sehingga akan terjatuh kebelakang rongga mulut. Hal ini mengakibatkan tertutupnya trakea sebagai jalan napas. Pada kasus-kasus tertentu, korban membutuhkan bantuan pernapasan. Sebelum diberikan bantuan pernapasan, jalan napas korban harus terbuka. Ada dua manuver yang lazim digunakan untuk membuka jalan napas, yaitu head tilt / Chin lift dan jaw trust.
Head tilt / Chin lift
            Tehnik ini hanya dapat digunakan pada korban tanpa cedera kepala, leher, dan tulang belakang. Tahap-tahap untuk melakukan tehnik ini adalah :
  1. Letakkan tangan pada dahi korban (gunakan tangan yang paling dekat dengan dahi korban).
  2. Pelan-pelan tengadahkan kepala pasien dengan mendorong dahi kearah belakang.
  3. Letakkan ujung-ujung jari tangan yang satunya pada bagian tulang dari dagu korban. Jika korban anak-anak, gunakan hanya jari telunjuk dan diletakkan dibawah dagu.
  4. Angkat dagu bersamaan dengan menengadahkan kepala. Jangan samapi mulut korban tertutup. Jika korban anak-anak, jangan terlalu menengadahkan kepala.
  5. Pertahankan posisi ini.
Jaw trust
            Tehnik ini dapat digunakan selain tehnik diatas. Walaupun tehnik ini menguras tenaga, namun merupakan yang paling sesuai untuk korban dengan cedera tulang belakang. Tahap-tahap untuk melakukan tehnik ini adalah :
  1. Berlutut diatas kepala korban. Letakkan siku pada lantai di kedua sisi kepala korban. Letakkan tangan di kedua sisi kepala korban.
  2. Cengkeram rahang bawah korban pada kedua sisinya.jika korban anak-anak, gunakan dua atau tiga jari dan letakkan pada sudut rahang.
  3. Gunakan gerakan mengangkat untuk mendorong rahang bawah korban keatas. Hal ini menarik lidah menjauhi tenggorokan.
  4. Tetap pertahankan mulut korban sedikit terbuka. Jika perlu, tarik bibir bagian bawah dengan kedua ibu jari.



Penilaian jalan napas
            Patensi (tetap mepertahankan) jalan napas sangat diperlukan untuk pernapasan yang adekuat. Jika korban sadar dan dapat berbicara dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa jalan napasnya paten (tidak ada sumbatan). Jika korban mengalami penurunan kesadaran, maka perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai patensi jalan napasnya. Biasanya korban dengan penurunan kesadaran terdapat darah, muntahan, atau air liur yang berlebihan pada jalan napasnya.
            Apabila jalan nafas sudah baik dan yakin tidak ada sumbatan maka diteruskan ke prosedur selanjutnya yaitu breathing (pernapasan).
Pernapasan (Breathing)
Defenisi
            Bernapas adalah usaha seseorang secara tidak sadar/otomatis untuk melakukan pernafasan. Tindakan ini merupakan salah satu dari prosedur resusitasi jantung paru (RJP).

Untuk menilai seseorang bernafas secara normal dapat dilihat dari berapa kali seseorang bernapas dalam satu menit, secara umum;
  • Frekuensi/jumlah pernapasan 12-20x/menit (dewasa), anak (20-30x/menit), bayi (30-40x/menit)
  • Dada sampai mengembang
Pernapasan dikatakan tidak baik/tidak normal jika terdapat keadaan berikut ini:
  • Ada tanda-tanda sesak napas : peningkatan frekuensi napas dalam satu menit
  • Ada napas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak saat bernafas)
  • Ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan (otot sela iga, otot leher, otot perut)
  • Warna kebiruan pada sekitar bibir dan ujung-ujung jari tangan
  • Tidak ada gerakan dada
  • Tidak ada suara napas
  • Tidak dirasakan hembusan napas
  • Pasien tidak sadar dan tidak bernapas
Tindakan-tindakan ini dapat dilakukan bila pernapasan seseorang terganggu:
  • Cek pernapasan dengan melihat dada pasien dan mendekatkan pipi dan telinga ke hidung dan mulut korban dengan mata memandang ke arah dada korban (max 10 detik)
  • Bila korban masih bernapas namun tidak sadar maka posisikan korban ke posisi mantap (posisikan tubuh korban miring ke arah kiri) dan pastikan jalan napas tetap terbuka; segera minta bantuan dan pastikan secara berkala (tiap 2 menit) di cek pernapasannya apakah korban masih bernapas atau tidak
Gambar : Posisi mantap
  • Jika korban bernapas tidak efektif (bernapas satu-satu, ngap-ngap, atau tidak bernapas) :
  • Aktifkan sistem gawat darurat (bila ada orang lain minta orang lain untuk mencari/menghubungi gawat darurat)
  • Buka jalan napas dengan menengadahkan kepala korban dan menopang dagu korban (head tilt dan chin lift)
Gambar : Buka jalan nafas; mendengar, melihat dan merasakan
hembusan nafas
  • Pastikan tidak ada sumbatan dalam mulut korban; bila ada sumbatan dapat dibersihkan dengan sapuan jari-balut dua jari anda dengan kain dan usap dari sudut bibir sapu ke dalam dan ke arah luar
  • Berikan napas buatan dengan menarik napas biasa lalu tempelkan bibir anda ke bibir korban dengan perantaraan alat pelindung diri (face mask, face shield) lalu hembuskan perlahan >1 detik sambil jari tangan anda menutup hidung korban dan mata anda melihat ke arah dada korban untuk menilai pernapasan buatan yang anda berikan efektif atau tidak (dengan naiknya dada korban maka pernapasan buatan dikatakan efektif)
  • Berikan nafas buatan 2x lalu periksa denyut nadi korban (menggunakan jari telunjuk dan jari tengah raba bagian tengah jakun, lalu geser ke arah samping hingga teraba lekukan di pinggir jakun tersebut) didaerah leher seperti pada gambar; bila tidak ada denyut maka masuk ke langkah CPR
Gambar : Periksa denyut pembuluh darah arteri karotis
  • Bila ada denyut nadi maka berikan napas buatan dengan frekuensi 12x/menit/1 tiap 5 detik sampai korban sadar dan bernapas kembali atau tenaga paramedis datang; dan selalu periksa denyut nadi korban apakah masih ada atau tidak setiap 2 menit
Sirkulasi
Defenisi

            Sistem sirkulasi atau pompa darah pada tubuh manusia dilakukan oleh jantung. Jantung terdiri dari empat ruangan, yaitu atrium kanan, atrium kiri, bilik kanan dan bilik kiri. Jantung berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh.
            Pada keadaan henti jantung dimana jantung berhenti berdenyut dan berhenti memompakan darah ke seluruh tubuh, maka organ-organ tubuh akan kekurangan oksigen. Organ yang paling rentan untuk terjadi kerusakan akibat kekurangan oksigen adalah otak. Hal ini disebabkan karena sel-sel otak mengkonsumsi energi yang berasal dari oksigen saja. Tanpa oksigen, proses hidup sel otak akan terganggu. Dalam waktu 4-6 menit tanpa oksigen, sel-sel otak akan mulai mengalami kerusakan. Setelah 8-10 menit sel otak akan rusak permanen.
Tindakan resusitasi jantung paru diharapkan dapat membantu mengalirkan darah ke seluruh tubuh walaupun tidak seoptimal kerja jantung. Untuk membantu sirkulasi dapat dilakukan kompresi jantung atau kompresi dada.


Tanda-tanda henti jantung
            Pada korban yang dicurigai terjadi henti jantung harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dilakukan kompresi jantung. Korban yang mengalami henti jantung sudah pasti dalam keadaan tidak sadarkan diri. Periksa segera jalan nafas dan apakah ada usaha bernafas (Breathing). Setelah itu kita periksa denyut jantung dengan meraba denyut arteri karotis. Dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah raba bagian tengah jakun, lalu geser ke arah samping hingga teraba lekukan di pinggir jakun tersebut. Rasakan denyut hingga 10 detik. Bila tidak dirasakan sama sekali denyut jantung lakukan kompresi dada.

Langkah-langkah kompresi jantung :
  1. Letakkan korban di tempat yang datar dan keras
  2. Bebaskan dada korban dari baju yang dikenakan korban
  3. Perlu diingat sebelum melakukan kompresi dada jalan nafas harus dipastikan tetap bebas
  4. Letakkan punggung telapak tangan kanan atau tangan yang dominan tepat di tengah-tengah tulang dada diantara kedua puting susu.
  5. Letakkan tangan yang satu lagi diatas tangan yang dominan tadi.
  1. Pastikan kedua tangan dapat saling terkait dengan stabil
  2. Arahkan bahu agar tepat berada diatas kedua telapak tangan tersebut hingga lengan menjadi lurus
  3. Dengan menggunakan bantuan berat badan, lakukan penekanan ke dada korban hingga kedalaman 4-5 cm.
  1. Lakukan kompresi ini sebanyak 30 kali kemudian diselingi dengan nafas buatan sebanyak 2 kali. Ini merupakan satu siklus.
  2. Setelah lima siklus, dapat diperiksa kembali apakah sudah ada denyut jantung. Bila belum ada, ulangi kembali siklus.
INSPIRASI DAN EKSPIRASI
            Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur sekalipun karma sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam.
Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh.
Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.
Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi) dan pengeluaran udara (ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.

a.
Pernapasan Dada
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1.
Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2.
Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

b.
Pernapasan Perut

Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua tahap yakni sebagai berikut.
1.
Fase Inspirasi. Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.
2.
Fase Ekspirasi. Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru.

Fisio Terapi Dada

FISIOTERAPI  DADA

A.    PENGERTIAN
Fisioterapi dada adalah: suatu rangkaian tindakan keperawatan yang terdiri atas perkusi dan vibrasi, postural drainase, latihan pernapasan/napas dalam, dan batuk yang efektif. (Brunner & Suddarth, 2002: 647)
Tujuan: untuk membuang sekresi bronkial, memperbaiki ventilasi, dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan.
Dalam memberikan fisioterapi pada anak harus diingat keadaan anatomi dan fisiologi anak seperti pada bayi yang belum memiliki mekanisme batuk yang baik sehingga mereka tidak dapat membersihkan jalan nafas secara sempurna. Sebagai tambahan dalam memberikan fisioterapi harus didapat kepercayaan dari anak-anak karena anak-anak sering tidak kooperatif.

B.     INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI FISIOTERAPI DADA.
  1. Indikasi:
·         Terdapat penumpukan sekret pada saluran napas yang dibuktikan dengan pengkajian fisik, X Ray, dan data klinis.
·         Sulit mengeluarkan atau membatukkan sekresi yang terdapat pada saluran pernapasan.
  1. Kontra indikasi:
·       Hemoptisis
·       Penyakit jantung
·       Serangan Asma Akut
·       Deformitas struktur dinding dada dan tulang belakang.
·       Nyeri meningkat.
·       Kepala pening
·       Kelemahan.
C.     DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan fisioterapi dada adalah:
  1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mukus banyak/ sekresi yang tertahan/ sekresi di bronkus.(NANDA).
  2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental dan berlebihan(Linda Jual Carpenito).
D.    KONSEP FISIOLOGIS FISIOTERAPI DADA.
  1. Perkusi
Perkusi atau disebut clapping adalah tepukkan atau pukulan ringan pada dinding dada klien menggunakan telapak tangan yang dibentuk seperti mangkuk dengan gerakan berirama di atas segmen paru yang akan dialirkan. Perkusi dapat membantu melepaskan sekresi yang melekat pada dinding bronkus  dan bronkiolus.
  1. Vibrasi
Vibrasi adalah kompresi dan getaran kuat secara serial oleh tangan yang diletakan secara datar pada dinding dada klien selama fase ekshalasi pernapasan.Vibrasi dilakukan setelah perkusi untuk meningkatkan turbulensi udara ekspirasi sehingga dapat melepaskan mucus kental yang melekat pada bronkus dan bronkiolus. Vibrasi dan perkusi dilakukan secara bergantian.
  1. Postural Drainase
Postural drainase adalah pengaliran sekresi dari berbagai segmen paru dengan bantuan gravitasi. Postural drainase menggunakan posisi khusus yang memungkinkan gaya gravitasi membantu mengeluarkan sekresi bronkial. Sekresi mengalir dari bronkiolus yang terkena ke bronki dan trakea lalu membuangnya dengan membatukkan dan pengisapan.
Tujuan postural drainase adalah menghilangkan atau mencegah obstruksi bronkial yang disebabkan oleh akumulasi sekresi.
Dilakukan sebelum makan (untuk mencegah mual, muntah dan aspirasi ) dan menjelang/sebelum tidur.
  1. Latihan Pernapasan/napas dalam
Latihan pernapasan adalah bentuk latihan dan praktek teratur yang dirancang dan dijalankan untuk mencapai ventilasi yang terkontrol  dan efisien serta mengurangi kerja pernapasan. Latihan pernapasan ini juga diindikasikan pada klien dispnoe dan klien yang masih dalam tahap penyembuhan setelah pembedahan thoraks.
Latihan pernapasan terdiri dari:
·         Pernapasan diafragma atau pernapasan abdominal: menggunakan diafragma dan dapat menguatkan diafragma selama pernapasan sehingga memungkinkan napas dalam secara penuh dengan sedikit usaha.
·         Pernapasan bibir dirapatkan/ pursed lip breathing: pernapasan dengan bibir dirapatkan untuk memperpanjang ekshalasi dan meningkatkan tekanan jalan napas selama ekspirasi dengan demikian mengurangi jumlah udara yang terjebak dan jumlah tahanan jalan napas.

Tujuan latihan pernapasan:
·           meningkatkan inflasi alveolar yang maksimal
·           meningkatkan relaksasi otot pernapasan
·           menghilangkan atau menghindari pola aktivitas otot-otot pernapasan yang tidak berguna dan tidak terkoordinasi
·           menurunkan frekuensi pernapasan
·           mengurangi kerja pernapasan
·           menghilangkan ansietas.

  1. Batuk Efektif
Batuk efektif merupakan latihan batuk untuk mengeluarkan sekresi. Setiap tiga atau empat kali perkusi vibrasi klien didorong untuk batuk efektif.

E.     HINDARI FISIOTERAPI BILA:
1.      Kondisi batuk pilek yang dialami anak tergolong berat atau disertai demam.
2.      Anak mengalami sesak yang parah karena dengan fisioterapi malah bisa menambah sesaknya.
3.      Anak baru saja menghabiskan makannya karena dapat mengakibatkan muntah.

F.      SYARAT FISIOTERAPI
1.      Sebelumnya, anak sudah banyak minum air putih.
2.      Pakaian yang dikenakan harus longgar.
3.      Ruangan yang dipakai tidak banyak berdebu, tidak lembap, ventilasi udara baik.
4.      Tersedia perlengkapan yang dibutuhkan:
·         bantal
·         tempat tidur dan kursi
·         alat nebulizer

G.    ASPEK KEAMANAN DAN KESELAMATAN
1.      Perkusi tidak boleh dilakukan pada daerah yang mudah terjadi cedera,seperti mammae, sternum, dan ginjal
2.      Saat melakukan tindakan perkusi dan vibrasi pada anak harus diperhatikan tekanannya jangan sampai menimbulkan fraktur
3.      Sebelum melakukan fisioterapi dada sebaiknya apabila anak belum minum air hangat anjurkan untuk minum air hangat untuk membantu mengencerkan sekretnya




H.    KONDISI YANG MENGIZINKAN FISIOTERAPI
·         Dokter menyarankan anak menjalani fisioterapi.
·         Batuk-pilek ringan (tidak disertai demam dan lamanya belum lebih dari 3 hari).


I.       TAHAPAN FISIOTERAPI
1.        Postural Drainage
Tahapan ini disebut juga dengan postural drainage, yakni pengaturan posisi tubuhuntuk membantu mengalirkan lendir yang terkumpul di suatu area ke arah cabang bronchus utama (saluran napas utama) sehingga lendir bisa dikeluarkan dengan cara dibatukkan. Untuk itu, orang tua mesti mengetahui di mana letak lendir berkumpul.
Caranya:

·         Taruh tangan di bagian dada atau punggung anak.
·         Minta anak menarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan melalui mulut secara perlahan.
·         Dekatkan telinga kita ke tubuhnya dan dengarkan asal bunyi lendir. Biasanya lendir yang mengumpul akan menimbulkan suara. Atau, rasakan getarannya.
·         Setelah letak lendir berhasil ditemukan, atur posisi anak:

    Bila lendir berada di paru-paru bawah maka letak kepala harus lebih rendah dari dada agar lendir mengalir ke arah bronkhus utama. Posisi anak dalam keadaan tengkurap.
    Kalau posisi lendir di paru-paru bagian atas maka kepala harus lebih tinggi agar
lendir mengalir ke cabang utama. Posisi anak dalam keadaan telentang.

    Kalau lendir di bagian paru-paru samping/lateral, maka posisikan anak dengan miring ke samping, tangan lurus ke atas kepala dan kaki seperti memeluk guling.


2.      PERKUSI DAN VIBRASI
Teknik pemukulan ritmik dilakukan dengan telapak tangan yang melekuk pada dinding dada atau punggung. Tujuannya melepaskan lendir atau sekret-sekret yang menempel pada dinding pernapasan dan memudahkannya mengalir ke tenggorok. Hal ini akan lebih mempermudah anak mengeluarkan lendirnya.
Caranya:
·         Lakukan postural drainage. Bila posisinya telentang, tepuk-tepuk (dengan posisitangan melekuk) bagian dada sekitar 3-5 menit. Menepuk bayi cukup dilakukan dengan menggunakan 3 jari.
·         Dalam posisi tengkurap, tepuk-tepuk daerah punggungnya sekitar 3-5 menit.
·         Dalam posisi miring, tepuk-tepuk daerah tubuh bagian sampingnya. Setelah itu lakukan vibrasi (memberikan getaran) pada rongga dada dengan menggunakan tangan (gerakannya seperti mengguncang lembut saat membangunkan anak dari tidur). Lakukan sekitar 4- 5 kali.


3.      LATIHAN BATUK
Batuk merupakan cara efektif dan efisien untuk mengeluarkan lendir di saluran pernapasan. Agar batuk jadi efektif maka perlu diberikan latihan batuk. Namun latihanini hanya bisa dilakukan pada anak yang sudah bisa diajak sedikit bekerja sama(kooperatif) atau mulai di usia batita. Untuk bayi, teknik batuk pada fisoterapi di rumah biasanya ditiadakan. Bayi biasanya mengeluarkan lendir dengan cara memuntahkannya.
Adapun latihan batuk yang bisa dilakukan adalah: Anak duduk dengan agak membungkuk. Minta ia menarik napas dalam-dalam lalu tahan dan kontraksikan otot perut. Tiup napas lebih kuat dan batukkan.

4.      LATIHAN PERNAPASAN
Latihan ini dilakukan untuk memperbaiki dan menormalkan kembali pola pernapasan serta membantu mengeluarkan lendir. Biasanya teknik ini dilakukan pada anak yang mengalami sesak napas. Latihan ini bisa dilakukan pada anak yang kooperatif, sekitar usia 3 tahun ke atas. Sebetulnya, yang paling banyak digunakan dalam latihan ini adalah otot-otot dada bagian bawah atau dafragma.


J.       PENDIDIKAN PASIEN DAN KELUARGA
Hal-hal yang perlu diajarkan kepada pasien dan keluarga adalah:
  1. Jelaskan tentang pengertian dan manfaat dari tindakan fisioterapi dada.
  2. Jelaskan tentang posisi dan teknik perkusi,vibrasi,postural drainase dan batuk efektif.
  3. Fisioterapi dada dilakukan di rumah untuk klien dengan PPOM, bronkiekstatis, dan fibrosis kistik.
  4. Jelaskan teknik pernapasan diafragma dan pernapasan bibir dirapatkan.
  5. Jelaskan bahwa postural drainase dilakukan sebelum makan atau menjelang tidur.
  6. Anjurkan untuk selalu mempertahankan cairan yang adekuat/minum yang banyak  dan menjaga kelembaban udara yang adekuat untuk mencegah kekentalan sekresi.
  7. Perkenalkan tanda-tanda infeksi seperti demam, perubahan warna dan karakter sputum.
  8. Jelaskan bahwa tindakan dihentikan jika terdapat gejala-gejala seperti nyeri meningkat, napas pendek meningkat, kelemahan, kepala pening dan hemoptisis.

PEMBERIAN OKSIGEN PADA ANAK
A.    PENGERTIAN
Pemberian terapi oxygen adalah suatu tata cara pemberian bantuan gas oksigen pada penderita yang mengalami gangguan pernapasan ke dalam paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat khusus.

B.     TUJUAN PEMBERIAN OKSIGEN
·         Memenuhi kekurangan oksigen
·         Membantu kelancaran metabolisme
·         Sebagai tindakan pengobatan
·         Mencegah hipoksia
·         Mengurangi beban kerja alat nafas dan jantung

C.     INDIKASI
Terapi ini dilakukan pada penderita :
·         Dengan anoksia atau hipoksia
·         Dengan kelumpuhan alat-alat pernafasan
·         Selama dan sesudah dilakukan narcose umum
·         Mendapat trauma paru
·         Tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda , dispneu, cyanosis, apneu
·         Dalam keadaan coma
D.    METODE PEMBERIAN OKSIGEN.

Pemberian oksigen dibagi menjadi 2 tehnik yaitu :
1.      Sistem aliran rendah.
Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. Ditujukan untuk klien yang memerlukan oksigen, namun masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali permenit.

Contoh system aliran rendah yaitu :

a.       Keteter Nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% – 44%.
Kentungan:
Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.   Kerugian :
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 45%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat.

b.      Kanul nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal.
Keuntungan. :
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman.
Kerugian.:
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1 cm, dapat mengiritasi selaput lendir.

c.       Sungkup muka sederhana.
Merupakan alat pemberian oksigen kontinu atau selang seling 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 – 60%.
Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
Kerugian :
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.

d.      Sungkup muka dengan kantong Rebreathing.
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 60 – 80% dengan aliran 8 – 12 liter/mnt .
 Keuntungan :
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir .
Kerugian :
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.

e.       Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing.
Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen mencapai 99% dengan aliran 8 – 12 liter/mnt dimana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi.
Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak mengeringkan selaput lendir.
Kerugian :
Kantong oksigen bisa terlipat.

2.      System aliran tinggi.
Teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur. Contoh tehnik sistem aliran tinggi adalah sungkup muka dengan ventury.
Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai ooksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada alat ini sekitas 4 – 14 liter/mnt dengan konsentrasi 30 – 55%.
Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol serta tidak terjadi penumpukan CO2.
Kerugian:
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.
E.     BAHAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN OKSIGEN
Ø  Kebakaran: Tidak diijinkan merokok atau menggunakan api ketika sedang menggunakan oksigen. Oksigen tidak meledak, namun dapat membesarkan api sehingga api akan berkobar lebih besar lagi.
Ø  Ledakan: Jangan pernah menggunakan minyak atau pelumas di sekitar tabung oksigen. Minyak dan pelumas yang berdekatan dengan oksigen kosentrasi tinggi dapat menyebabkan ledakan.
Ø  Kerusakan katup: Hindari jatuhnya tabung atau penempatan tabung yang memungkinkannya untuk jatuh. Regulator atau katup yang rusak dapat menyebabkan silinder menjadi proyektil.
F.      HAL- HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMBERIAN OKSIGEN
1.         Amati tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah pemberian oksigen
2.         Jauhkan hal-hal yang dapat membahayakan misalnya : api, yang dapat menimbulkan kebakaran
3.         Air pelembab harus diganti setiap 24 jam dan isi sesuai batas yang ada pada botol
4.         Botol pelembab harus disimpan dalam keadaan bersih dan kering bila tidak dipakai
5.         Nasal prong dan masker harus dibersihkan, didesinfeksi dan disimpan kering
6.         Pemberian oksigen harus hati-hati terutama pada penderita penyakit paru kronis karena pemberian oksigen yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan hipoventilasi,hypercarbia diikuti penurunan kesadaran.
7.         Terapi oksigen sebaiknya diawali dengan aliran 1 – 2 liter/menit, kemudian dinaikkan pelan-pelan sesuai kebutuhan
8.         Terapi O2 merupakan salah satu intervensi keperawatan yang bersifat kolaboratif yang merupakan bagian dari paket intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien berdasarkan diagnosa keperawatan yang dirumuskan. Oleh karena itu maka langkah pertama yang perawat lakukan adalah melakukan pengkajian

SUCTION PADA ANAK

A.    DEFINISI
Penghisapan lendir (suction) merupakan suatu tindakan keperawatan yangdilakukan pada klien yang tidak mampu untuk mengeluarkan secret secaramandiri dengan menggunakan bantuan alat penghisap (Hidayat, 2004).Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan nafas sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yangadekuat dengan cara mengeluarkan secret pada klien yang tidak mampumengeluarkannya sendiri (Ignativicius, 1999).



B.     INDIKASI
Indikasi dilakukannya penghisapan adalah adanya atau banyaknya secretyang menyumbat jalan nafas, ditandai dengan :
1.      Hasil auskultasi : ditemukan suara crackels atau ronkhi
2.      Nadi dan laju pernafasan meningkat
3.      Ditemukan adanya mukus pada saluran nafas
4.      Pasien yang koma
5.      Pasien yang tidak bisa batuk karena kelumpuhan dari otot pernafasan.
6.      Bayi atau anak dibawah umur 2 tahun


C.     KONRA INDIKASI
  1. Pasien dengan stridor
  2. Pulmonary oedem
  3. Post pneumonectomy

D.    TUJUAN
  1. Untuk memelihara saluran nafas tetap bersih.
  2. Untuk mengeluarkan sekret pada pasien yang tidak mampumengeluarkan secret sendiri.
  3. Diharapkan suplay oksigen terpenuhi dengan jalan nafas yangadekuat.


E.     ALAT DAN BAHAN
  1. Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan  
  2. Kateter penghisap lendir (steril)3.
  3. Pinset steril
  4. Sarung tangan steril
  5. Dua buah kom berisi larutan aquabides atau NaCl 0.9% dan larutandesinfektan
  6. Kasa steril
  7. Kertas tissue


F.      PROSEDUR KERJA
  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Cuci tangan
  3. Tempatkan klin pada posisi supinasi dengan kepala miring kea rahperawat
  4. Pakai sarung tangan
  5. Hubungkan kateter penghisap dengan selang alat penghisap
  6. Hidupkan mesin penghisap
  7. Masukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquabides atauNaCl 0.9% untuk mempertahankan tingkat kesterilan alat
  8. Masukkan kateter penghisap melalui hidung klien pada posisi tidak menghisap
  9. Gunakan alat penghisap dengan tekanan 95– 110 mmHg untuk anak – anak dan tekanan 50– 95 mm Hg untuk bayi.
  10. Tarik keluar kateter penghisap tidak lebih dari 5 detik untuk anak – anak dan 3 detik untuk bayi
  11. Bilas kateter penghisap dengan menggunakan aquabides atau cairanNaCl 0.9%
  12. Minta klien untuk menarik nafasa dalam dan batuk di setiap jedaproses penghisapan.
  13. Setelah seluruh lendir berhasil dikeluarkan, kaji jumlah, konsistensi,warna, bau secret dan respons klien terhadap prosedur yangdilakukan
  14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan


NEBULIZER / INHALASI
Nebulizer adalah sebuah alat yang mampu merubah zat dalam bentuk cair ke uap. Pada umumnya Nebulizer diberikan pada orang yang mengalami gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek maupun obstruksi / penyumbatan saluran pernapasan oleh mukus [dahak]. Nebulizer cenderung diberikan pada bayi atau anak-anak karena usia tersebut belum mampu mengeluarkan dahak secara optimal.

Pada penyakit ISPA [Infeksi Saluran Pernapasan Atas] yang ditandai dengan peradangan disertai batuk, pilek, adanya dahak, bisa mengganggu kebersihan jalan napas membuat aliran oksigen ke paru-paru tidak lancar, dahak inilah yang harus kita bersihkan. Untuk bisa membersihkan dan mengeluarkannya dahak harus kita buat lebih encer, disinilah fungsi pemberian Nabulizer.





Description: Pemberian Nebulizer Pada  Anak Yang Batuk 








Nebulizer umumnya berupa cairan yang diberi obat bronkodilator dan ekspektoran. Bronkodilator berfungsi untuk melebarkan otot-otot saluran pernapasan, sedangkan ekspektoran sebagai pengencer dahak. Cairan ini akan dirubah menjadi uap oleh Nebulizer yang diberikan dengan cara menghirup uapnya.


Dengan pemberian obat melalui Nabulizer dahak akan lebih encer dan saluran nafas lebih meluas sehingga dahak lebih mudah keluar saat batuk dibantu dengan menepuk ringan pada bagian dada dan punggung. Manfaat pemberian Nabulizer biasanya langsung terasa, pada kasus berat pemberian Nabulizer harus rutin agar tidak terjadi penumpukan dahak / mukus.

Sebenarnya pengobatan dengan cara Nebulizer bukanlah teknik baru dalam pengobatan gangguan saluran pernapasan. Sebelum ada Nebulizer baskom berisi air hangat biasa digunakan untuk melegakan pernapasan dengan menghirup uap air hangat yang ada di baskom. Jika dahak terlalu lama menyumbat saluran napas dampaknya adalah gangguan oksigenasi [sesak dan kekurangan oksigen] pada jaringan tubuh -

Tujuan Memberikan Nebulizer : untuk memberikan obat melalui nafas spontan klien.



Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmPGs0xyKxPtQifH2zP96LyTl_p0E87BYARlgzv8PbX0i85oAAwvTjEyo44-de60O0lMOMm1fWeWHHIvPN_S5LPMkY41-2_LczW50giQaibgTwSsiAQ3-w_Ji41-AXW5AIoEy1Z5MudLsu/s320/Cara+Pakai+Nebulizer.jpgPersiapan Memberikan Nebulizer
Alat dan obat :










1. Oksigen set
2. Nebulizer set
3. Cairan normal saline dan obat yang akan dipakai
4. Spuit 5 atau 10 cc.
5. Mouth piece bila perlu
6. Bengkok
7. Tisu
Lingkungan : Bersih dan tenang
Petugas : 1 orang

Prosedur Memberikan Nebulizer:
1. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pengobatan khususnya pada klien yang menggunakan bronkodilator.
2. Jelaskan prosedur pada klien
3. Atur posisi klien senyaman mungkin paling sering dalam posisi semifowler, jaga privasi.
4. Petugas mencuci tangan.
5. Nebulizer diisi obat (sesuai program pengobatan) dan cairan normal salin ± 4-6cc.
6. Hidupkan nebulizer kemudian hubungkan nebulizer dan selangnya ke flow meter oksigen dan set aliran pada 4-5 liter/menit, atau ke kompresor udara.
7. Instruksikan klien untuk buang nafas.
8. Minta klien untuk mengambil nafas dalam melalui mouth piece, tahan nafas beberapa saat kemudian buang nafas melalui hidung.
9. Observasi pengembangan paru / dada klien.
10. Minta klien untuk bernafas perlahan-lahan dan dalam setelah seluruh obat diuapkan.
11. Selesai tindakan, anjurkan klien untuk batuk setelah tarik nafas dalam beberapa kali (teknik batuk efektif).
12. Klien dirapikan.
13. Alat dirapikan.
14. Petugas mencuci tangan.
15. Catat respon klien dan tindakan yang telah dilakukan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Perlakukan klien secara hati-hati.
2. Saat awal tindakan klien perlu didampingi sampai terlihat
tenang.











DAFTAR PUSTAKA

Perry, Peterson, Potter. 2005. Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi5.Alih Bahasa: Rosidah, Monika Ester. Jakarta: EGC.


Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Alih Bahasa: Agung Waluyo,dkk. Jakarta: EGC.


Kusyati Eni Ns, dkk. 2006. Ketrampilan Dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC.